Pandangan nanar tampak menghiasi wajah lelah Akhid (22) yang duduk di pinggir batas taman di pojok perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Ia duduk diam sambil mengamati peserta pawai lain yang belum selesai tampil. Beberapa teman yang tadi duduk di sampingnya sudah beranjak ke seberang jalan menuju trotoar eks Gedung Senisono yang lebih teduh. ”Tadi dari rumah jam 8 pagi, terus naik truk dan turun di Pojok Beteng Wetan,” jelas pemuda warga Dusun Dogongan, Sriharjo, Imogiri itu,” terus jam 10 peserta pawai mulai berjalan dari sana ke perempatan Kantor Pos Besar ini”.
Ia beserta ratusan orang dari Bantul lainnya menjadi peserta Pawai Keprihatinan Laku Tapa Bisu yang berangkat dari titik Pojok Beteng Wetan. Peserta pawai asal Bantul yang lain berangkat dari titik Pojok Beteng Kulon. Kedua kelompok itu kemudian bertemu di perempatan Kantor Pos Besar menyambut rombongan peserta pawai sanak gunung yang berasal dari berbagai kabupaten di Jawa Tengah yang berada di lereng-lereng Gunung. Peserta pawai warga gunung itu berangkat dari perempatan Tugu sekitar pk 10.00 WIB.
Para peserta pawai yang merupakan terdiri dari berbagai elemen masyarakat dan beberapa lembaga, meliputi Masyarakat 8 Gunung, Studio Mendhut, masyarakat Bantul, Teater Garasi, UPLINK, Serikat PRT, RUMPUN, dan Perhimpunan Solidaritas Buruh ini kemudian menampilkan sebuah prosesi yang menyimbolkan pertemuan warga dari wilayah gunung dan laut/pesisir untuk bersama-sama memulai kembali kehidupan yang berdaulat dan bermartabat, bertumpu pada kekuatan sendiri, setelah didera berbagai bencana selama ini. Warga dari gunung tampak membawa berbagai hasil bumi, sedangkan warga pesisir membawa berbagai peralatan pertukangan. Setelah semuanya bertemu di titik pusat Kota Yogyakarta itu, mereka saling bertukar makanan dan makan bersama serta menampilkan berbagai kesenian tradisional.
”Walaupun kemasannya pawai seperti ini, tetapi sebenarnya yang kami lakukan ini semacam demonstrasi,” lanjut Akhid, ”Kami harap pihak-pihak yang berkewajiban membantu korban bencana, pemerintah, bisa tanggap.” Proses yang selama ini sudah berjalan dianggapnya masih lamban dan sangat riskan terjadi salah sasaran dalam penyaluran bantuan. Jika ternyata pemerintah daerah tidak tanggap dengan harapan warganya yang disimbolkan dalam bentuk pawai Pawai Keprihatinan Laku Tapa Bisu “Sanak Gunung Sambang Sedulur Kidul” hari Minggu, 18 Juni 2006 ini maka mereka berencana akan mengadukan nasibnya langsung ke Pemerintah Pusat di Jakarta. Pawai ini juga menyiratkan kepedulian warga-warga di daerah yang tidak terkena bencana untuk turut serta membantu meringankan beban masyarakat di daerah bencana secara mandiri sesuai kemampuan masing-masing.
Akhid dan warga Bantul lainnya yang turut serta dalam pawai ini adalah para korban peristiwa gempa bumi yang terjadi pada hari Sabtu pagi, 27 Mei 2006 lalu. Dia mengakui bahwa 95% bangunan di dusunnya roboh dan 5 orang meninggal karenanya. “Saya hanya berharap agar semuanya bisa tertangani lebih cepat dan tepat sasaran,” tukasnya mengakhiri pembicaran sambil beranjak menyusul teman-temannya yang sudah sejak tadi berteduh di trotoar seberang jalan untuk beristirahat sejenak sebelum kemudian harus berjalan lagi menuju Alun-Alun Utara, tempat truk-truk yang akan membawa mereka kembali pulang terparkir.
Foto:
Berbagai hasil bumi dari masyarakat delapan gunung untuk warga Bantul yang menjadi korban gempa bumi.
Akhid, pemuda asal Sriharjo, Imogiri yang turut menjadi korban gempa bumi berharap pawai ini bisa mendapatkan respon dari pemerintah dan penyaluran bantuan bisa lebih cepat dan tepat sasaran.
Berpanas-panas naik truk bak terbuka jauh-jauh tak masalah asalkan bisa membantu warga Bantul agar selalu bersemangat untuk kembali membangun kehidupannya.



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar