Menurut rencana, wakil Presiden Jusuf Kalla akan mengunjungi Yogyakarta pada hari Rabu tanggal 19 Juli 2006. Namun rencana kunjunggannya telah ramai mendapat sambutan masyarakat sejak hari ini, Selasa 18 Juli 2006. Sekitar 150 orang yang tergabung dalam Suara Warga Korban Gempa Yogyakarta merespon rencana kunjungan Jusuf Kalla dengan aksi berjalan mundur dari Alun-alun Utara Yogyakarta menuju kantor Gubernur DIY di Kepatihan, Jalan Malioboro.Aksi jalan mundur yang dilakukan sejak pukul 09.00-12.00 WIB ini merepresentasikan tuntutan mereka agar Jusuf Kalla mengundurkan diri dari jabatannya. Mereka juga mengusung satu toples berisi peyek undur-undur (rempeyek dari hewan kecil yang bersarang di tanah dan selalu bergerak mundur) dan tempe. Jenis makanan pertama melambangkan tuntutan mundur untuk Jusuf Kalla dari jabatan Wakil Presiden dan tempe menyimbolkan perkataan yang mencla-mencle (tidak bisa dipegang perkataannya) sebagaimana tercermin dalam peribahasa Jawa “esok dele sore tempe” yang bermakna perbuatan tidak sesuai dengan perkataannya.
Dalam selebaran yang disebarkan oleh peserta aksi, perkataan mencla-mencle Jusuf Kalla terkait dengan janji yang diutarakannya pada hari Kamis, 1 Juni 2006 lalu, bahwa pemerintah akan mengucurkan bantuan pembangunan kembali rumah korban gempa DIY-Jateng sebesar Rp 10-30 juta. Setelah satu bulan tidak ada kabar lanjutan tentang kebijakan pemerintah ini, pada tanggal 14 Juli 2006 Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyatakan pemerintah hanya menyediakan Rp 4-5 juta sebagai kompensasi pembangunan kembali rumah korban gempa.
Aksi ini bukanlah aksi meminta belas kasihan kepada pemerintah, melainkan lebih aksi menuntut pertanggungjawaban pejabat negara atas ucapannya. Menurut peserta aksi, pejabat negara seharusnya berbicara dengan kesungguhan dan dapat dibuktikan di lapangan karena sabdaning ratu sakkecap rata tiyang sak nagari (perkataan pejabat negara meski hanya seklumit akan diikuti rakyat seluruh negara).
Selain rempeyek undur-undur dan tempe yang akan disampaikan ke Jusuf Kalla melalui Gubernur DIY, mereka juga mengusung poster-poster bergambar tokoh wayang Bathara Kala–menyimbolkan kekuatan negatif yang mengancam kehidupan. Dalam khasanah wayang, Bathara Kala dikisahkan memakan bulan dan matahari yang mengakibatkan gerhana. Gempa bumi diibaratkan kegelapan selayaknya gerhana, dan aksi ini dimaksudkan untuk menyerukan kebangkitan menuju kehidupan yang terang benderang.
—————-
Kontak:
Jiyono (0818 0264 8803), Bengbeng (0817 260 873)
Suara warga Korban Gempa Yogyakarta
Jl Nitikan No 17, Nitikan, Umbulharjo, Yogyakarta
Telepon : 0274-417491
—————–
Foto: Bathara Kala (www.lv-imports.net)



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar