Ada banyak cara bagi warga di daerah bencana agar tetap bertahan hidup. Bisa berupa dengan mencari bantuan ke lembaga-lembaga penyalur bantuan, mencoba kembali bekerja, atau bisa pula dengan menjual beberapa barang-barang pribadi yang tidak terlalu mereka perlukan lagi–termasuk biskuit dan mie instan gratis bantuan dari World Food Programme yang mereka dapatkan. Nyatanya, kedua jenis barang itu bisa dijumpai di beberapa titik pedagang barang bekas (klithikan) di seputaran Alun-alun Selatan dan Jalan Gading, Yogyakarta.
Ketika dikunjungi Senin (24/06) sore, seorang pedagang baju dan barang bekas di trotoar timur Jalan Gading (utara Plengkung Gading), yang tak mau disebut namanya, mengaku bahwa ia mendapatkan berbungkus-bungkus biskuit dan mie instan itu dari warga Bantul penerima bantuan. Makanan bantuan itu mereka jual karena membutuhkan uang.
Alasan lain karena tampaknya mereka juga tidak terlalu suka dengan rasa makanan gratis tersebut. Oleh pedagang barang bekas yang warga Kecamatan Mantrijeron itu, sebungkus biskuit dijual dengan harga Rp 500 dan sebungkus mie instan dijual Rp 1.000.
Selama sebulan ini ia mengaku belum pernah kehabisan stok. Orang-orang yang datang untuk membeli barang bekas pun cukup tertarik dengan dua jenis makanan itu dan tak jarang ada yang membelinya. Bahkan, warung angkringan di sebelahnya pun turut membeli biskuit dan menjualnya kembali dengan harga Rp 600.
Mereka berani menjual makanan bantuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang seharusnya gratis itu karena merasa barang itu sudah dijual oleh pemiliknya yang memang telah memiliki hak, yaitu warga penerima bantuan di daerah bencana.
“Kalaupun ada yang melaporkan ke polisi saya nggak takut, Mas. Soalnya saya kan juga beli, nggak nyolong dari mereka,” terangnya.
Ia pun tak segan-segan membuka satu bungkus biskuit atau mie instan untuk dicicipi oleh calon pembelinya. Bahkan dengan ringan ia selalu menyarankan resep jika membuat mie instan yang berat bersihnya lebih besar daripada mie instan yang dijual di pasaran pada umumnya itu agar jangan lupa menambahkan bumbu sendiri. Menurutnya, mie instan itu tidak ada rasanya jika disajikan dengan bumbu penyertanya saja.
Sementara itu, warga Desa Timbulharjo, Sewon, Bantul yang mendengar kabar bahwa ada makanan bantuan yang dijual tampaknya sudah maklum. Namun begitu, menurut pengamatan Saryanto, warga Dusun Kepek, Desa Timbulharjo, warga di daerahnya tidak ada yang menjual makanan bantuan itu. Semuanya tetap mereka konsumsi. Kalaupun tidak suka, masih tetap mereka simpan.
Capture: Biskuit dan mie instan gratis sumbangan dari Australia dalam rangka World Food Programme – United Nations bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia.



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar