Gempa 27 Mei 2006 yang melantakkan sebagian Yogyakarta dan Klaten telah mengguncang hati banyak orang, dan simpati pun mengalir dari berbagai pihak. Kalangan pegiat penyiaran komunitas, terutama para pengelola radio komunitas pun tak ketinggalan. Selain memfasilitasi penyaluran sokongan dalam bentuk uang atau barang, para pengelola radio komunitas (rakom) juga berinisiatif memberikan bantuan dengan memanfaatkan siaran-siaran radio.Radio Suara Pesisir Kidul (SPK) di daerah Mandingan, Bantul, misalnya meski tak luput dari gempa tetap mengudara untuk menyiarkan informasi mengenai distribusi bantuan dan informasi orang hilang. Para pengelola radio BBM (Balai Budaya Minomartani), walau studionya terletak di wilayah Sleman sekitar 15 kilometer dari daerah yang lantak karena gempa, juga memanfaatkan siaran radio untuk menghimpun bantuan pangan, medis, tenaga bahkan tempat pengungsian sementara.
Berdasar seruan dari Majelis Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) inisiatif-inisiatif sporadis semacam itu kemudian dipertemukan dalam bentuk siaran bersama untuk membantu dan mengawal proses tanggap darurat (emergency) dan pemulihan (recovery). Dengan dukungan dari USAID, Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI), Internews dan Combine Resource Institution (CRI) terwujud radio darurat yang kemudian diberi nama Radio Suara Punokawan.
“Persiapan teknis, termasuk pengembangan format siaran dilakukan di sepanjang bulan Juni-Juli. Setelah seminggu siaran percobaan, mulai tanggal 31 Juli 2006 lalu kami resmi siaran pada gelombang AM 1425 Mhz,” kata Surowo, ketua pelaksana Radio Suara Punokawan. Siaran diudarakan dari studio dadakan di kompleks BPKB (Balai Pengembangan Kegiatan Belajar) Yogyakarta dan direncanakan akan mengudara selama 2 bulan penuh hingga 31 September 2006.
Filosofi Pewayangan
Nama Punokawan diambil dari dunia pewayangan, yakni empat tokoh sekunder Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang selalu muncul menjadi pengiring para ksatria Pandawa. Kehadiran mereka seringkali hanya sebagai tambahan yang kurang diperhitungkan dan untuk menghadirkan lelucon saja, padahal kerap menentukan arah perubahan.
Punokawan juga kerap diidentikkan dengan wong cilik (rakyat kebanyakan). Filosofi “remeh tapi berkekuatan untuk membawa perubahan” inilah yang diadopsi oleh para penggagas Radio Suara Punokawan. “Nafas keberpihakan pada wong cilik inilah yang menjadi cirri kami,” ungkap Surowo.
Menyoal pilihan untuk mempergunakan frekuensi AM, Surowo mengatakan ada dua pertimbangan. Yang pertama adalah pertimbangan legal, untuk memakai jalur FM susah mencari frekuensi yang lowong karena sudah dipenuhi siaran niaga. Perijinan juga tidak gampang diperoleh meskipun siaran ini memiliki tujuan kemanusiaan. Selain itu, dengan label radio komunitas kekuatan pemancarnya pun tidak boleh melebihi 50 watt dengan jangkauan siar 2,5 kilometer saja. Padahal komunitas yang dilayani tersebar di lokasi dengan radius lebih dari 20 kilometer.
“Pertimbangan kedua adalah masalah teknis, yakni untuk menyiapkan peralatan siaran di gelombang FM cukup rumit dan mahal. Lagipula kita mendapat antena pemancar dari Radio Suara Surabaya dengan tarif bencana alias murah,” tambah Surowo yang juga penyiar senior di Radio BBM FM ini. Dengan perangkat ini, jangkauan siaran bisa mencapai 20 kilometer udara meliputi hampir seluruh wilayah Bantul dan Klaten.
Untuk merangkul pendengar, pengelola Suara Punokawan juga membagikan pesawat radio untuk korban gempa yang kebanyakan tidak lagi memiliki radio karena rusak terkubur reruntuhan bangunan. Direncanakan sekitar 500 pesawat radio akan disebar untuk warga di berbagai lokasi, tetapi sampai pertengahan Agustus baru 201 pesawat radio yang tersalurkan. Diharapkan para penerima pesawat radio tersebut selain menjadi pendengar loyal juga menjadi pihak yang mengevaluasi isi siaran Suara Punokawan dan memberikan suplai informasi.
Gotong royong
Karena dibentuk secara dadakan, pengelola aktifitas radio dilakukan secara gotong royong. Artinya tidak ada pengelola yang direkrut secara khusus, melainkan partisipasi sukarela dari pegiat-pegiat radio komunitas di Yogyakarta dan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI). Pegiat rakom yang terlibat antara lain dari Radio Angkringan, BBM, Suara Malioboro, Lima Cemara, Kopilurah dan satu radio dari lereng Merapi Radio K FM.
Selain melakukan reportase lapangan, materi siaran juga diperoleh dari kerjasama dengan lembaga lain yang memiliki aktifitas di lokasi gempa, misalnya lembaga-lembaga kluster kesehatan, lingkungan, pendidikan dan lainnya. “Arah program siaran selain untuk menenangkan, juga melakukan pengawalan dan pengawasan distribusi bantuan,” lanjut Surowo. Dengan pendekatan radio berita, maka Punokawan mengakomodasi kontribusi aktif komunitas pendengarnya dengan laporan dari lapangan mempergunakan telepon dan breaking news (berita hangat).
Radio Suara Punokawan kini juga bisa dipantau secara langsung (online streaming) melalui internet. Dengan “menumpang” di website www.saksigempa.org, siaran online streaming Suara Punokawan pun siap mendunia.



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar