Bersyukurlah bagi Anda mahasiswa yang masih menempuh teori dan belum mengerjakan skripsi. Ya, paling tidak Anda tidak tertimpa nasib buruk seperti halnya sejumlah mahasiswa yang sedang menempuh skripsi di lokasi-lokasi yang parah dihantam gempa. Pasalnya bahan skripsi para mahasiswa ini rusak. Komputer untuk menyimpan naskah skripsi hancur tertimpa reruntuhan. “Komputerku hancur tertimpa reruntuhan tembok,” ujar Rinto, warga Manding , Bantul yang sedang meyusun skripsi. Umumnya, seperti pengalaman Rinto, bahan skripsi para mahasiswa tidak dibackup dengan penunjang lainya, misalnya disimpan dalam flash disk atau compact disc. Para mahasiswa hanya mengandalkan naskah yang telah dicetak pada saat pengajuan bimbingan ke dosen. Namun sayang, cara ini ternyata tidak manjur untuk menyimpan naskah karena banyak terjadi naskah skripsi turut hilang tertimbun reruntuhan.
Pengalaman ini dihadapi oleh para mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang kampusnya terletak di wilayah gempa di Sewon, Bantul. Mereka yang tengah mengerjakan tugas akhir pusing tujuh keliling karena karya-karya tugas akhir yang telah mereka buat selama berbulan-bulan hancur tertimpa reruntuhan tembok gedung tempat penyimpanan karya mahasiswa. “Karyaku hancur tertimpa reruntuhan bangunan,” ujar Anton, mahasiswa ISI tingkat akhir. Mahasiswa ISI umumnya menyelesaikan tugas akhir tak hanya dalam bentuk laporan tertulis tetapi mereka juga diwajibkan membuat karya seni sesuai dengan jurusannya. Untuk mahasiswa jurusan kriya biasanya diwujudkan dalam bentuk patung, lampu hias atau tergantung isi skripsinya. Walaupun banyak mahasiswa mengalami kegagalan dalam penyusunan skripsi karena gempa, beberapa kampus belum menentukan kebijakan yang terkait dengan peristiwa semacam ini. Sejumlah mahasiswa ISI merasa kampus mereka mengeluarkan kebijakan yang tidak menguntungkan mahasiswa. Karya yang hancur akibat gempa harus diperbaiki dalam waktu kurang dari satu bulan. Bila dalam batas waktu yang telah ditentukan mahasiswa belum menyelesaikan karyanya, maka secara otomatis dianggap gugur dalam wisuda periode ini. “Aku terburu-buru menyelesaikan karyaku karena dikejar pihak kampus”, tambah Anton. Di sisi lain, beberapa mahasiswa mengaku gempa dan akibatnya juga menyebabkan mereka kehilangan semangat untuk kembali menyusun skripsi. “Aku malas menyusun skripsi sudah tidak ada ide lagi,” lanjut Rinto. Walaupun malas untuk menyusun skripsi, ia tidak berpangku tangan. Rinto memilih untuk sementara waktu menjadi penjual gedek (anyaman bambu untuk dinding). “Jualan gedek keuntungannya bisa buat beli rokok”, paparnya. <ati>
|
|
|



1 komentar untuk tulisan diatas
tiada henti2nya negara kita ini dretipa bencana alam seakan sudah enggan bersahabat dengan kita seakan murka dengan negara kita go green mari jadikan segala bencana alam yang kita hadapi ini sebagai langkah awal kita untuk menjaga alam kita dengan hati mari kita rawat serta kita lestarikan penghijauan mungkin alam murka kepada kita yang selalu menyianyiakanya..jangan kita menyerah dan lemah karena musibah ini mari kita bangkit dan membangun alam ini dengan hati semoga para korban dapat diberikan kesabaran serta kelapang dadaan dalam menghadapi musibah ini
Tulis Komentar