Site Map: Home > berita terbaru, Dari Lapangan > Korban Gempa: Subjek atau Objek?
25 September 2006 06:18 WIB

Di pintu gerbang samping, tepat di pinggir jalan, Jumat, minggu lalu, nampak guru-guru sekolah dasar tengah berdiri tenang. Beberapa di antaranya terlihat sibuk berbicara dengan sesama guru. Mereka adalah para pengajar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Timbulharjo. Sementara itu, anak-anak didiknya sedang berbaris rapi di sepanjang jalan SD ini. Hari ini bangunan sekolah mereka yang baru akan diresmikan.
Tetapi raut wajah para guru ini tak terlihat sumringah. Hanya sesekali senyuman menghiasi wajah mereka yang mulai berkerut. Walaupun acara peresmian akan segera digelar mereka tetap tenang-tenang saja. Tak terlihat kesibukan menyambut para tamu undangan. Melewati gerbang utama para tamu undangan sudah berdatangan. Kedatangan tamu disambut oleh beberapa pejabat desa, pejabat kecamatan, dan pihak Yayasan Dwiyuna Jaya selaku penyumbang dana. Tak nampak barisan guru menyambut kehadiran para tamu. Acara yang sudah dipersiapkan sejak pagi telah ditangani oleh orang-orang dari Yayasan Dwiyuna Jaya.Para pengelola sekolah yang punya gawe duduk di belakang para tamu undangan ketika acara sedang berlangsung. Tak ada sambutan dari kepala sekolah ketika acara dimulai. Sampai akhir acara pun tak sepatah kata keluar dari mulut kepala sekolah. Agaknya, para guru ini memang sengaja diposisikan seolah sebagai tamu dirumahnya sendiri. Walaupun menjadi tamu tetapi untuk kegiatan bersih-bersih tetap ditangani oleh sekolah. Hal ini dapat dilihat ketika seorang guru disuruh untuk membersihkan kursi barisan depan. Debu yang beterbangan menyebabkan kursi dihinggapi debu. Hal inilah yang memaksa ajudan kapolres meminta kursi dibersihkan ketika atasannya hendak duduk. Acara yang seharusnya dimulai pukul 8 pagi itu mundur hingga pukul 8.30.Sepenggal kisah di atas mengambarkan bahwa masyarakat korban gempa masih dijadikan objek oleh pihak penyumbang. Selama ini pelibatan masyarakat jarang dilakukan oleh penyumbang. Korban hanya dijadikan objek sehingga tidak perlu dilibatkan dalam kegiatan yang dilaksanakan. Alih-alih turut mengambil kebijakan tentang bantuan yang masuk. Ini hanya salah satu contoh dari sekian banyak lembaga penyumbang yang menempatkan korban sebagai subjek.

Korban yang merupakan penduduk asli sepantasnya diletakkan sebagai subjek, karena merekalah yang lebih mengetahui kondisi lingkungannya. Sementara penyumbang masih harus belajar tentang banyak hal kepada korban. Sehingga kejadian mendatangkan tukang bangunan ke rumah tukang bangunan tidak lagi terjadi. <ati>


tidak ada komentar untuk tulisan diatas

Tulis Komentar

Nama* Comment
E-mail*
Website
Jl. KH Ali Maksum No 183, Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta Indonesia - 55188 Telp/Fax : +62 274 411 123 E-mail: office[at]combine.or.id
Didukung oleh :
  • COMBINE Resource Institution
  • Hivos - People Unlimited