Gempa yang melanda Yogyakarta dan Jateng akhir Mei lalu tak hanya merusakkan bangunan fisik. Aktifitas perekonomian masyarakat juga mengalami keterpurukan. Satu hingga dua hari perekonomian di Bantul bahkan bisa dikatakan lumpuh total. Toko-toko belum buka, pasar pun belum ada aktifitas. Kini, memasuki bulan keempat pascagempa berlalu aktifitas perekonomian mulai berjalan.
Namun ada bentuk aktifitas ekonomi yang sedikit berbeda. Jika Anda kebetulan sedang melintasi jalan Parangtritis dari Km 8 ke arah utara sampai Km 4 Anda akan menemukan kegiatan ekonomi baru di wilayah ini. Dahulu sebelum gempa sepanjang jalan ini dipenuhi oleh toko-toko berderet yang menjual aneka macam kebutuhan. Dari mulai makanan siap saji, alat tulis dan kantor, counter seluler, sampai jamu seduh.
Kini, toko-toko tersebut sudah tidak lagi beroperasi. Sebagian di antaranya pindah ke lokasi lain. Tetapi ada juga yang memang menutup tokonya karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk berjualan, sebagian di antaranya mengaku kehabisan modal. Sebab rata-rata mereka menempati lahan sewa. Heri pedangang jamu seduh yang berjualan di Dusun Dadapan mengaku, sebenarnya kontrak rukonya masih 2 tahun. Tapi dia memutuskan untuk pindah lokasi di daerah Minggiran. “Kios saya rusak, atapnya ambruk, banyak barang dagangan yang hancur,” ujarnya. Tak hanya Heri yang mengalami nasib sial. Tetangga sebelah rukonya juga memutuskan untuk pindah lokasi. “Sebenarnya berat melepaskan tempat ini karena sudah mempunyai pelanggan,” ujar Fadli pemilik counter HP.
Nasib baik rupanya juga tidak berpihak pada Waluyo. Pedagang angkringan ini mengaku kehabisan modal. Maklum pelanggan angkringan ini banyak anak kos. Umumnya anak kos, biasanya mereka hutang dulu kalau makan. Pada awal bulan mereka baru membayar hutang setelah kiriman datang. “Nek gempane diundur tanggal 3 Juni aku ora bangkrut (kalau saja gempanya mundur sampai tanggal 3 Juni aku tidak akan bangkrut),” seloroh Waluyo. Tetapi bukan berarti perekonomian di wilayah ini berhenti. Di sepanjang jalan ini sekarang menjamur penjual material. Ruko yang tadinya digunakan untuk berjualan counter disulap menjadi tumpukan pasir, batu bata, dan material lainnya. Perbandingan antara toko yang tutup dengan maraknya penjual material hampir seimbang. Saat Saksi Gempa melakukan pengamatan, jalan sepanjang 4 kilometer ini terlihat sekitar 15 toko yang sudah tidak beroperasi, sedangkan toko baru yang menjual material tercatat 10 buah.
Bila dibandingkan mungkin pendapatan per hari dari 10 toko material dan 15 toko sebelumnya (counter, warung makan, jamu seduh, dan alat tulis dan kantor) perputaran uangnya lebih banyak toko material. Masyarakat sekarang sedang sibuk membangun rumah jadi penjual materiallah yang akan diserbu masyarakat. Jadi, siapa bilang ekonomi Yogya macet? <ati>



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar