Jarum jam kala itu masih belum beranjak jauh dari angka 3, masih terik betul sang surya memancarkan cahayanya. Namun itu tak jadi halangan buat Sri Cahyaningtias. Dengan cekatan wanita berusia 40 tahun itu mencampurkan berbagai bahan seperti pisang, kacang hijau, dan singkong serta santan kelapa menjadi satu. Ia tengah mempersiapkan kolak sebagai hidangan berbuka puasa yang khas bagi keluarganya. “Sudah dari zaman mbah saya,” katanya menceritakan asal muasal kolak pisang di keluarganya.Bagi Sri dan warga muslim lainnya di Kota Yogyakarta dan sekitarnya, Ramadan kali ini adalah yang pertama pascagempa. Kesedihan Sri mulai pupus meski ia kehilangan ibunya dan rumah yang diwariskan orang tuanya rusak berat.
“Awalnya saya sedih sekali. Tapi sekarang saya ikhlas, Mas. Makin mendekatkan diri sama Allah, apalagi di bulan Ramadan ini,” ungkap warga Grembyangan, Madurejo, Prambanan dengan tegar. Duka yang mendalam ditekannya jauh-jauh. Ia telah bangkit, beraktifitas seperti biasanya ke sawah bersama Sarjono, sang suami, serta membangun rumah tinggal sementara yang terbuat dari bambu berukuran 4 x 5 meter.
Seperti halnya Sri, bulan Ramadan menjadi saat yang tepat Arif Cipto (24) untuk berserah diri pada Yang Kuasa. Bulan ini memberinya kesempatan untuk menyucikan diri untuk menyambut hari kemenangan dan memberikan kedamaian di hati setiap umat. Ia mengaku makin tentram di bulan puasa ini. Lebih giat salat dan berzikir. ”Tahun-tahun kemarin puasa saya selalu batal. Ada aja halangannya,” tutur warga Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta ini. Kini ia bertekad untuk menuntaskan puasanya.
“Waktu gempa dulu, pikiran saya kalut sekali. Mau marah juga marah sama siapa, pokoknya emosi aja. Tapi lama-lama juga saya sadar, ini kan bencana, cobaan,” ujarnya. Ia bersyukur selamat tanpa luka apapun, walaupun rumahnya rusak lumayan parah. Hingga kini reruntuhan rumahnya masih ditutup kain terpal karena ia belum memiliki biaya untuk memperbaikinya.
Secara personal, pemuda yang aktif bergiat di Karang Taruna ini berharap Ramadan kali ini dapat menjadi momentum bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya untuk bangkit. “Ya bangkit dari keterpurukan, bangkit dari kesedihan untuk menjalani hidup seperti sedia kala. Tentunya atas restu Gusti Allah,” pungkas Cipto.<zal>



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar