“Krasak…krasak…krasak”. Berderak-derak bunyi daun kelapa jatuh ke tanah. Seketika itu pula anak-anak berhamburan keluar kelas. Jarum jam baru menunjuk pukul 10.12. Bel tanda istirahat terdengar sudah sejak tadi, sementara pelajaran baru akan diakhiri pukul 11.30. Walaupun bel tanda pelajaran berakhir belum dikumandangkan, namun anak-anak tersebut tetap tidak mau mengikuti pelajaran lanjutan. Beberapa diantara mereka malah nekat mau pulang. Beberapa guru tampak kewalahan mengatur anak-anak untuk kembali mengikuti pelajaran. Diantara anak-anak tersebut ada juga yang menangis. Mereka adalah murid Sekolah Dasar (SD) Kalinampu II, Srihardono, Pundong, Bantul.
Rupanya siswa-siswa SD ini ketakutan mendengar bunyi daun kelapa jatuh. Trauma terhadap bunyi masih dirasakan oleh siswa SD ini, maklum saja sekolah mereka telah beberapa mengalami kecelakaan. Gempa yang melanda Yogyakarta dan Jateng akhir Mei lalu menyebabkan bangunan sekolah ini hancur. Untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar pihak sekolah yang dibantu dari beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mendirikan tenda. Namun tenda ini juga tidak bertahan lama. Kencangnya angin pancaroba yang menerpa daerah ini beberapa waktu lalu menyebabkan tenda tersebut terbang terbawa angin..
Masyarakat yang prihatin melihat kondisi SD ini kemudian berinisiatif membangun sekolah darurat. Material yang digunakan untuk pembangunan diambil dari sumbangan alumni SD yang dikumpulkan masyarakat. Triplek, seng dan bambu yang tadinya disumbangkan untuk rumah warga disulap menjadi sekolah darurat. Namun nasib baik rupanya belum berpihak pada siswa SD Kalinampu II.
Sabtu (16/9) jam 11.00 ketika pelajaran tengah berlangsung, bangunan sekolah sementara ini tiba-tiba ambruk. Bambu petung yang tidak ditanam ditanah ternyata tidak kuat menahan tiupan angin yang lumayan kencang. Kecelakaan mengakibatkan beberapa siswa dilarikan ke rumah sakit. Bahkan ada juga anak yang terpaksa dijahit kakinya karena terkena bambu.
Bangunan sementara yang letaknya menempati bekas reruntuhan SD ini hanya digunakan oleh kelas 5 dan 6. Sedangkan untuk kelas 1-4 lokasinya terpisah, yaitu di tanah bekas SMP Mumadiyah Pundong. Kebetulan SMP ini telah bubar, sehingga tanahnya dapat dimanfaatkan oleh SD Kalinampu yang kini memiliki murid 111 siswa.
Kecelakan telah berlalu, namun trauma yang dirasakan oleh siswa belum juga hilang. Kini, mereka belum berani lagi mengunakan lokasi bekas SD-nya sendiri. Kegiatan belajar kelas 5 dan 6 terpaksa dilakukan di ruang kelas 3 dan 4. Untuk menyiasati kekurangan kelas ini pihak sekolah memutuskan untuk membagi jadwal pelajaran menjadi dua kali. Kelas 1,2,5 dan 6 memulai pelajaran pukul 07.30 dan berakhir pukul 11.30, sedangkan kelas 3 dan 4 mengikuti pelajaran dari pukul 13.00 sampai 16.30.
Ketakutan akan ambruknya sekolah mungkin akan segera hilang, karena sebentar lagi mereka akan menempati bangunan permanen. Palang Merah Indonesia (PMI) yang prihatin melihat kondisi SD ini akan menyumbangan dana pembangunan kembali gedung SD Kalinampu II.



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar