Site Map: Home > berita terbaru, Dari Lapangan > Tamu di Bantul Harus Siap Diajak Ngamar
22 September 2006 06:12 WIB

Berkunjunglah ke Bantul, terutama di kawasan-kawasan yang parah terpapar gempa, maka anda akan diajak “ngamar” oleh pemilik rumah. Eh, jangan bepikir buruk dulu. Ngamar yang ini beda konotasinya dengan kata ngamar yang biasanya tak jauh dari urusan seksual.Gempa yang melanda Yogyakarta dan Jateng akhir Mei lalu telah merubuhkan ratusan ribu rumah penduduk. Kini, deretan rumah sementara yang sederhana menggantikan rumah-rumah penduduk di Bantul dan Klaten.

Selain kerugian fisik, sebagian besar masyarakat juga dibelit masalah ekonomi. Persoalannya, banyak anggota masyarakat yang kehilangan mata pencaharian atau usaha mereka. Kesulitan ekonomi menjadi dalaha satu faktor hingga masyarakat masih bertahan di tenda. Untuk membangun kembali rumah tinggalnya masyarakat ini mengantungkan bantuan dari pihak luar. Baik itu dari pemerintah melalui dana rekonstruksi maupun dari lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pihak-pihak lain.

Bangunan rumah sementara maupun tenda yang mereka tempati umumnya berukuran 6 x 6 m, sedangkan tenda rata-rata berukuran 4 x 4 m. Banyak bangunan rumah sementara terbuat dari reruntuhan bangunan yang masih bisa dimanfaatkan. Biasanya masyarakat membangunan rumah sementara ini dari swadaya sendiri. Kalau pun ada yang disumbang oleh pihak lain jumlahnya masih bisa dihitung.

“Gubuk ini dibuat dari sisa reruntuhan rumah saya yang lama,” ujar Mudiharjo, warga Dadapan, Timbulharjo, Sewon, Bantul. Gubuknya yang berukuran kecil tak menyisakan tempat untuk membuat ruang tamu. Bangunan ini murni digunakan sebagai sarana istirahat. Pembagian tempatnya memang diupayakan seperti rumah “normal” lainnya. Ada sekat di setiap kamar yang jumlahnya terbatas, biasanya memanfaatkan lemari pakaian.

“Sak niki nek tilem dados setunggal sak batih, untel-untelan koyo gereh (sekarang kalau tidur jadi satu seisi rumah, berdesakan seperti pindang),” ujar Mami, warga Pranti, Srihardono, Pundong, Bantul. Tetapi ada juga yang membagi ruangan rumah sementara menyesuaikan jumlah penghuni rumahnya.

Rumah sementara Mudiharjo berupa bangunan yang memanjang, dari depan hingga belakang hanya diisi dengan tempat tidur. Maka ketika tuan rumah kedatangan tamu, mereka akan menjamunya di kamar paling depan. Di kamar inilah para tamu akan dimanjakan oleh tuan rumahnya. Hidangan yang disajikan oleh tuan rumah pun disajikan diatas kasur. “Mejanya sudah hancur terkena gempa, jadinya tamu di ajak ngamar seperti ini” tambahnya sembari tertawa.

Dana rekonstruksi yang dijanjikan cair awal Oktober depan kemungkinan akan molor lagi. Padahal dana inilah yang mungkin akan membuat Mudiharjo, dan ribuan keluarga korban gempa tidak perlu ngamar lagi jika kedatangan tamu.


tidak ada komentar untuk tulisan diatas

Tulis Komentar

Nama* Comment
E-mail*
Website
Jl. KH Ali Maksum No 183, Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta Indonesia - 55188 Telp/Fax : +62 274 411 123 E-mail: office[at]combine.or.id
Didukung oleh :
  • COMBINE Resource Institution
  • Hivos - People Unlimited