Site Map: Home > berita terbaru, Dari Lapangan > Fasilitator Pun Rawan Penganiayaan
19 October 2006 06:48 WIB

Tak mudah memang menjadi fasilitator sosial pendamping pokmas. Walaupun fasilitator berasal dari lingkungan setempat yang notabene telah mengenal lingkungannya, hal ini bukan jaminan untuk kenyamanan kinerja. Salah-salah fasilitator mendapat bogem mentah dari warga. Kejadian yang tak mengenakkan dialami oleh Fasilitator Sosial di Bangi/Dadapan,  Timbulharjo, Sewon, Bantul Zamroni.
Ceritanya bermula saat proses verifikasi baru dilangsungkan. Tim verifiaksi yang terdiri atas beberapa unsur mendatangi rumah korban gempa untuk menentukan layak atau tidaknya rumah tersebut mendapatkan bantuan rekonstruksi. Tim verifikasi mendatangi rumah warga didampingi oleh kepala dusun (kadus) setempat. Sampailah tim itu di rumah Ngadiman, warga Bangi yang kebetulan sedang tidak berada ditempat. Tim akhirnya ditemui oleh Poniah, istri Ngadiman. Rumah Ngadiman berbatasan dengan rumah anaknya, Wahyudi. Dalam verifikasi tim ini tidak hanya mengamati keadaan rumah, tetapi tim juga melemparkan pertanyaan kepada pemilik rumah.Pertanyaan yang dilontarkan tim kepada pemilik rumah masih seputar kepemilikan rumah. Pertanyaan ini pula yang membawa Zamroni dimusuhi oleh Ngadiman. Sebelum verifikasi dilakukan, Kadus Dadapan Riyanto menjelaskan bahwa rumah yang terletak di sebelah Ngadiman atas nama Wahyudi, anaknya. Hal ini dilakukan agar kedua rumah mendapatkan jatah dana rekonstruksi. Tetapi sayangnya penjelasan ini bersebarangan dengan jawaban yang diberikan Poniah. Ketika tim verifikasi menanyakan siapa pemilik rumah sebelah Ngadiman, Poniah menjawab bahwa rumah tersebut hanya digunakan sebagai gudang. Mendengar jawaban tersebut kontan kadus pun kelabakan. “Kulo langsung pucet, Poniah jawab ngotenniku, kulo koyo ditampar (saya pucat mendengar jawaban tersebut, seakan saya kena tampar),” papar Riyanto.Hasil verifikasi akhirnya diumumkan oleh kadus. Dalam pengumuman tersebut rumah Ngadiman hanya mendapatkan jatah dana rekonstruksi untuk satu rumah. Berbekal golok ia pun mendatangi Zamroni selaku fasilitator. Tanpa mendengar penjelasannya terlebih dulu, Ngadiman mengacungkan goloknya kearah Zamroni. Untungnya kemarahan Ngadiman dapat dihalangi oleh warga yang lain.  “Aku ora ngerti opo-opo malah dadi sasaran, kudune nesu karo bojone (aku nggak tahu apa-apa malah kena marah, harusnya kemarahan itu ditujukan pada istrinya),” papar Zamroni. <ati>


tidak ada komentar untuk tulisan diatas

Tulis Komentar

Nama* Comment
E-mail*
Website
Jl. KH Ali Maksum No 183, Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta Indonesia - 55188 Telp/Fax : +62 274 411 123 E-mail: office[at]combine.or.id
Didukung oleh :
  • COMBINE Resource Institution
  • Hivos - People Unlimited