Site Map: Home > berita terbaru, Dari Lapangan > Pengelolaan Simpang Siur, Pusat Pelatihan Terbengkalai
6 October 2006 06:22 WIB

Bangunan itu nampak kotor tak terurus. Catnya yang yang berwarna putih sudah mulai pudar terkena sinar matahari. Bangunan seluas kurang lebih 1000 m² tersebut merupakan pusat pelatihan gerabah. Pusat pelatihan ini juga dilengkapi dengan pelataran parkir yang cukup untuk menampung 5-10 bus pariwisata. Di depan bangunan juga terlihat deretan kios yang memajang aneka barang gerabah. Namun sayangnya kios yang ada juga terlihat kusam tak terawat. Menilik dari sarana yang disediakan agaknya tempat ini sengaja akan dikembangkan menjadi sentra industri gerabah. Sentra industri ini terletak di daerah Jetis, Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Bantul.
Sentra industi ini diperuntukkan bagi warga Jetis, Pundong. Setiap perajin di wilayah ini mendapatkan alokasi kios untuk memajang barang dagangannya. Untuk memajang barang dagangan mereka juga belum dikenai oleh biaya sewa tempat. Penduduk desa yang kurang lebih 100 kepala keluarga ini mengandalkan gerabah sebagai mata pencahariaan. Desa ini juga dikenal sebagai desa wisata di daerah selatan Yogyakarta. Tetapi karena minimnya pembeli di tempat tersebut menyebabkan warga malas menggunakan kios yang telah disediakan itu untuk berdagang. “Kami menutup kios karena tidak ada pembeli yang kemari, tetapi kadang-kadang dibuka kalau ada kunjungan,” ujar  Ketua Perajin di Dusun Jetis, Panjangrejo, Pundong, Bantul Bawoni. Sejak bangunan ini berdiri belum ada tanda-tanda keramaian di sentra industri ini. Sesekali memang ada kunjungan pejabat yang menengok sambil membawa rombongan. Bila pejabat datang perajin akan membuka kiosnya.Pengelolaan sentra indutri ini ditangani oleh perajin di Jetis di bawah Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bantul.Di wilayah Bantul sendiri terdapat 3 tempat sentra industri, yakni Kasongan, Pasar Seni Gabusan, dan Pusat Pelatihan Gerabah di Dusun Jetis, Pundong. Saat ini, Pasar Seni Gabusan tengah menjadi fokus perhatian dari disperindag, sedangkan sentra industri di Pundong terkesan dianaktirikan. Pengelolaan yang simpang siur menyebabkan pengembangan wilayah ini masih jauh dari harapan.“Sudah beberapa bulan tempat itu kosong nggak ditinjau pemda,” terang Bawoni. Minimnya pengelolaan yang dilakukan oleh dinas menyebabkan sentra ini tak terurus. Agaknya gempa tak mengubah perhatian dinas ke sentra ini. Kini, sentra industri ini tidak hanya tak terurus, tetapi beberapa kios bangunan juga ambruk terkena guncangan. Dari sekitar 8 kios yang ada kini hanya tinggal 2 kios yang berdiri. Kedua kios ini pun tak semuanya digunakan oleh perajin, hanya 1 kios yang digunakan oleh perajin. Penggunaan ini pun tak maksimal karena kios hanya digunakan untuk memajang barang saja tetapi tidak digunakan sebagai showroom. “Kami hanya menaruh barang saja di sini, saolnya rumah hancur,” ujar Harmanto, salah seorang perajin gerabah Pundong. Bangunan ini kemudian dialihfungsikan oleh masyarakat sekitar sebagai areal penjemuran kedelai.

Lemahnya pengembangan kawasan ini juga dapat dilihat dari akses menuju lokasi. Jalan yang digunakan untuk mencapai daerah ini  terjal dan berlubang hampir di sepanjang jalan. Daerah ini dapat dijangkau melewati jalan Parangtritis dan Imogiri. Sayangnnya lokasi sentra industri ini tidak strategis dan kurang diminati oleh perajin. <ati>


tidak ada komentar untuk tulisan diatas

Tulis Komentar

Nama* Comment
E-mail*
Website
Jl. KH Ali Maksum No 183, Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta Indonesia - 55188 Telp/Fax : +62 274 411 123 E-mail: office[at]combine.or.id
Didukung oleh :
  • COMBINE Resource Institution
  • Hivos - People Unlimited