Menjelang lebaran tak hanya penjual pakaian yang dijejali konsumen. Situasi yang sama juga dijumpai di loket pembayaran rekening listrik di Kantor Perusahaan Listrik Negara (PLN) Bantul. Di ruangan yang hanya berukuran 4×5 m ini ratusan pelanggan berdesakan hendak membayar tagihan rekening listrik. Di depan antrian nampak beberapa petugas PLN sibuk memanggil nama-nama pelanggan. Bahkan kursi yang disediakan tak cukup menampung pelanggan yang hendak membayar tagihan. Menjelang siang antrian pelanggan tak kunjung surut. “Kulo pun teng mriki dangun nganti geringgingen (saya sudah lama di sini sampai kesemutan,” papar Poniman, warga Pundong.
Sebenarnya lonjakan antrian pembayaran telah diantisipasi PLN. Di depan pintu masuk telah disediakan mobil PLN sebagai tempat pelayanan pembayaran tagihan. Nanum di loket ini hanya diperuntukkan bagi pelanggan yang terlambat membayar tagihan selama 2-3 bulan. Sedangkan loket yang di dalam gedung PLN diperuntukkan bagi pelanggan yang menunggak tagihan di atas 3 bulan.Surat sakti berisi pemberitahuan pemutusan jaringan listrik terbukti ampuh untuk memaksa pelanggan segera melunasi kewajibannya. Kini, PLN kebanjiran pelanggan yang berbondong-bondong hendak membayar tagihan setelah menerima surat edaran tersebut karena takut listriknya diputus secara sepihak oleh PLN.Rata-rata pelanggan yang datang telah menunggak selama 6 bulan yang terhitung sejak gempa akhir Mei lalu. “Kulo telas Rp 235 ribu, soale kalih kenggeng dendo (saya habis Rp 235 ribu soalnya juga dikenai denda),” papar Sigit, warga Kepuh. Kebanyakan pelanggan yang datang mengeluhkan denda yang dibebankan PLN kepada warga. Walaupun denda yang diberikan hanya sekitar Rp 3.000-an namun jumlah ini menjadi berarti karena diakumulasi menjadi beban setiap bulannya.
Walaupun sebenarnya PLN memberikan keringanan berupa cara pembayaran yang dapat diangsur, ternyata banyak pelanggan yang enggan memanfaatkan fasilitas tersebut. Alasannya pelanggan tetap harus melunasi tagihan dalam bulan ini karena memang begitulah tenggat waktu yang diberikan oleh PLN. “Sami mawon mbak wong tanggal 21 benjing pun kedah lunas (sama saja soalnya tanggal 21 Oktober ini tagihan juga harus dilunasi),” timpal Siti, warga Bangunharjo.Sekitar pukul 14.00 petugas sibuk menghitung lembaran uang hasil tagihan. Di balik meja kerja petugas nampak lima bendel lembaran ratusan ribu. Sedangkan uang pecahan lainnya belum selesai dihitung. Tak hanya petugas yang kewalahan menghitung pendapatan, tukang parkir di PLN pun kebanjiran rezeki karena pengunjung PLN yang melonjak. <ati>



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar