Pencairan dana rekonstruksi telah dilaksanakan di beberapa tempat. Reaksi atas pencairan dana pun bermacam-macam. Bagi masyarakat yang menerima dana tersebut boleh saja bersukacita, karena memang dana inilah yang mereka tunggu-tunggu untuk membangun rumah. Tetapi bagaimana dengan warga yang tak mendapatkan dana rekonstruksi? Inilah sekelumit cerita di balik pencairan dana rekonstruksi yang memang cukup menimbulkan polemik di masyarakat korban gempa.
Dana rekonstruksi ini pulalah yang diduga oleh warga Bangi, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Bantul sebagai pemicu kematian salah seorang warganya yang bernama Basir. “Basir loro kawit ngerti ora oleh dana rekonstruksi (Basir sakit sejak mengetahui dirinya tak mendapatkan dana rekonstruksi),” jelas Marsin, salah seorang tetangga Basir. Secara medis, Basir meninggal akibat gagal jantung. Awalnya, Sabtu, saat sholat isya ia pingsan di masjid. Jamaah masjid kemudian membawanya ke Puskesmas terdekat. Tetapi karena penyakitnya parah maka Basir dilarikan ke Rumah Sakit Panembahan Senopati, Bantul. Di rumah sakit inilah Basir menghembuskan nafas terakhir.
Menurut keterangan yang diperoleh dari warga, Basir terlihat murung sejak kepala dusun mengeluarkan pengumuman tentang warga yang tak lolos verifikasi. Pengumuman itu dilaksanakan pada Kamis (5/9), tepat ketika Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan peletakan batu pertama di rumah salah seorang warga sebagai simbol pembangunan kembali rumah warga yang rusak akibat gempa. Dalam pengumuman tersebut Basir dinyatakan tidak lolos verifikasi. Rumah Basir sebelumnya telah didatangi oleh tim verifikasi, bahkan mereka sempat masuk ke dalam rumah untuk menentukan layak tidaknya keluarga ini mendapat bantuan. Tetapi akhirnya memutuskan keluarga ini tidak mendapatkan dana rekonstruksi.Pihak RT setempat sebelumnya merahasiakan perihal kelurga Basir yang tidak mendapatkan dana rekonstruksi. “Jangan bilang ke Basir kalau tidak mendapatkan dana rekonstruksi nanti malah Salamah, istrinya, kambuh gilanya,” ujar Ketua RT 04 Bangi Danuri. Namun akhirnya toh Basir tahu juga kalau dirinya tidak mendapatkan dana rekonstruksi. Sebelumnya, saat melakukan ronda kampung Basir pernah mengeluhkan kebingungan untuk membangun kembali rumahnya kepada para tetangganya. Hal ini disebabkan karena dirinya tak mempuyai dana untuk membangun rumah. Selama ini keluarganya mengandalkan pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Walaupun ketua RT setempat telah memberikan pengertian kepada Basir, namun hal ini tidak membuatnya berbesar hati. “Faktanya dia tidak mempunyai uang untuk membangun rumah makanya dia sangat berharap mendapat dana rekonstruksi,” tukas Terry, warga lainnya.Di samping itu warga sebenarnya telah mengupayakan agar Basir mendapatkan peninjauan ulang melalui RT setempat. Salah seorang warga bahkan bersedia memberikan sebagian dana rekonstruksinya untuk Basir. Tetapi hal ini pun tak dapat menolong Basir. Dana rekonstruksi memang bukan penyebab utama kematian Basir, tetapi kegalauan hati Basir yang sejak awal terlanjur berharap banyak pada dana inilah yang menjadi pemicu kematian warga tersebut. Kini, masyarakat mempuyai beban baru akibat dana rekonstruksi. Pertama mengubur Basir dan menanggung hidup istrinya yang sewaktu-waktu kambuh gilanya. <ati>



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar