“Aku mau tas ngusungi meja nang sekolahan, saiki kesel banget (tadi saya baru saja ngangkatin meja di sekolahan, sekarang capek sekali)”. Kalimat pendek itu terlontar dari mulut mungil Stefani, gadis kecil di Pranti, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Bantul. Ibunya menanggapi cerita anak semata wayangnya itu dengan antusias.
Sesekali tawa kegembiraan mengisi obrolan siang itu. “Sak niki Fani wis meh koyo biyen gelem ngobrol kalih tiyang (sekarang Fani –panggilan akrab Stefani- sudah hampir seperti dulu, sudah mau berbicara dengan orang lain),” papar Bambang, orang tua Fani, membuka obrolan dengan Saksi Gempa. Gempa akhir Mei lalu tak hanya meluluh lantakkan bangunan yang ada. Tawa manis anak-anak ikut hilang tertimbun reruntuhan. Trauma gempa masih melekat pada diri anak-anak yang masih lugu itu. Berbagai upaya telah ditempuh untuk menyembuhkan trauma. Pendampingan anak-anak juga menjamur untuk membantu mengatasi trauma.Salah satu bocah yang ikut merasakan trauma akibat gempa adalah Stefani. Bocah berumur 7 tahun itu kini sudah dapat menikmati indahnya bermain dengan teman sebayanya. Perangainya yang periang sempat hilang selama beberapa bulan. Guncangan gempa yang berkekuatan 5,9 skala Richter menyebabkan rumah tempat tinggal keluarga Bambang ambruk. Walaupun seluruh anggota keluarga selamat dari gempa, anak semata wayangnya juga menjadi ‘korban’. Gadis kecil yang dulunya periang itu tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan sering mengeluarkan air mata. Terutama bila mendengar bunyi kentongan sebagai pertanda adanya gempa, Fani selalu mengalami kejang-kejang. Hal inilah yang membebani batin keluarga Bambang. “Nek omah ambruk tasih saged damel sitik-sitik, tapi menawi bocah keweden lak mboten saget napo-napo (kalau rumah yang ambruk kami masih bisa membagun sedikit demi sedikit, tapi kalau anak kami yang trauma seperti ini kan nggak bisa berbuat apa pun),” lanjut bapak berkumis ini. Untunglah agaknya Bambang kini sudah dapat sedikit bernapas lega, bahkan sudah dapat menikmati tidur dengan pulas. Pasalnya anak kesayangannya telah berangsur-angsur sembuh dari trauma. Memang kini, setelah 5 bulan gempa berlalu senyum keceriaan mulai nampak di wajah anak-anak Bantul. <ati>
|
|
|



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar