Di pelataran sekolah nampak kerumunan anak kecil. Sesekali senyum kecil terlihat di wajah ceria mereka. Tawa canda tak henti-hentinya terdengar dari mulut manis anak-anak itu. Maklum saja mereka kedatangan relawan yang menemani anak-anak bermain. Mereka adalah anak-anak korban gempa Mei lalu di Dusun Pranti, Srihardono, Pundong, Bantul. Namun kecerian mereka sedikit terganggu ketika mobil kijang warna hijau datang. Wajah ceria mereka berubah ketakutan. Dari dalam mobil bermunculan beberapa orang sembari mengangkat boks-boks besar. Rupanya mereka adalah gerombolan dokter yang akan memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi korban gempa.
Satu-persatu anak-anak meninggalkan pelataran sekolah. Alasannya beragam, dari ingin makan hingga hendak memanggil teman lainnya. “Mbak, aku tak nyusul liyane dhisik yo (Mbak, saya mau memanggil yang lainnya dulu),” ujar Wantoro, salah seorang anak Pranti. Hingga satu jam tim dokter menunggu tak nampak anak-anak berdatangan kembali. Khawatir anak lainnya pulang, dokter akhirnya memulai kegiatan pemeriksaan kesehatan. Namun anak-anak masih ketakutan untuk diperiksa. Mereka saling dorong untuk melakukan pemeriksaan. “Kowe dhisik, aku bar kowe wae (kamu dulu, setelah itu baru saya),” kata Bagong, anak lainnya.Rupanya anak-anak ini takut disuntik saat pemeriksaan dilakukan. “Aku wedi disuntik, tur ora gelem ngombe obate (saya takut disuntik, saya juga nggak mau kalau suruh minum obat),” ucap Kris. Hingga pemeriksaan usai tak ada satu pun anak yang disuntik. Mereka hanya diberikan vitamin. Dalam pemeriksaan rutin kali ini dokter tidak menemukan anak yang sakit. “Kondisi mereka sehat, hanya ada beberapa yang terkena penyakit kulit,” terang dokter Leli. Penyakit kulit seperti gatal-gatal banyak dijumpai di wilayah ini. Biasanya penyakit ini disebabkan oleh air kotor dan udara. Maklum saja desa ini kotor dan berdebu. Warga banyak memelihara sapi, sementara pembuangan limbahnya belum ditanggulangi.Pemeriksaan diakhiri pukul 15.00. Tak banyak yang datang dalam pemeriksaan. Dalam daftar pasien tercatat 20 anak yang melakukan pemeriksaan gratis siang itu. Biasanya, ketika relawan untuk anak-anak datang mereka antusias bermain. Setiap hari relawan harus menemani anak sebanyak 50-100 orang. Agaknya dibutuhkan strategi khusus agar anak-anak itu mau diperiksa. Image pemeriksaan selalu disuntik telah melekat di pikiran mereka, wajar bila akhirnya mereka ketakutan ketika tim dokter datang. <ati>
|
|
|



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar