Sedari sore (25/09), seperti biasa, posko Radio Informasi Darurat Sikakap dipenuhi anak-anak. Mereka senang bermain di dalam ruangan atau sekedar melihat tampilan gambar-gambar yang ada di layar monitor komputer. Saat file foto dibuka maka sudah dapat dipastikan anak-anak ini akan menyerbu dengan raut wajah penuh keheranan dan komentar-komentar dalam bahasa Mentawai. Namun, sore ini agak berbeda. Mereka tidak hanya ingin melihat foto atau sekedar igin mencoba komputer, tapi mereka mempersiapkan gitar.
Semangat unjuk kebolehan
Tepat pukul 19.00, dengan wajah dan gerak yang tidak sabar, belasan anak itu menyerbu masuk posko dan tidak peduli dengan kabel-kabel listrik yang malang melintang di lantai. Alunan musik diiringi oleh relawan-relawan GKI (Gerakan Kemanusian Indonesia) yang baru tiba di Mentawai malam tadi. Acara ini juga dipakai sebagai pengenalan kehadiran GKI kepada masyarakat Sikakap. Akhirnya lagu dinyanyikan oleh delapan anak penyanyi inti. Lagu yang berkisah tentang keagungan Tuhan, rasa syukur, dan terima kasih terhadap semua anugerah-Nya pun didendangkan. Lagu sampai dinyanyikan dua kali saking semangatnya anak-anak untuk bernyanyi.
Teleconference dengan Bintang Mamamia
Usai menyanyi, acara puncaknya adalah teleconference dengan bintang Mamamia Indosiar, Ajeng dan Mama Cindy. Ajeng yang menjadi tokoh idola di televisi tentu memberikan suasana yang berbeda di mata-mata anak ini ketika mendapatkan kesempatan berkomunikasi langsung. Teleconference ini difasilitasi oleh relawan-relawan GKI. Dua buah pertanyaan terlontar dari mulut imut anak-anak ini, salah satunya, “Mbak Ajeng, enak nggak menjadi orang terkenal?”. Setelah tanya jawab selesai, Ajeng dan Mama Cindy mengakhirinya dengan pesan agar anak-anak Sikakap terus semangat untuk mencapai cita-cita dan belajar yang rajin.
Semuanya terasa begitu cepat dan menyenangkan. Usai acara, anak-anak itu berhamburan keluar dengan air muka yang sangat berseri-seri. Bahagia jelas terpancar karena suara mereka telah masuk di radio, sebuah prestasi yang membanggakan, dan telah pula bercakap-cakap dengan Ajeng yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Trauma healing untuk anak
Apa yang dilakukan bersama ini merupakan salah cara sederhana untuk melakukan trauma healing bagi anak-anak. Sebagian besar para orang tua mengeluhkan kondisi trauma anak-anak mereka, seperti yang diungkapkan oleh Ferdinan yang memiliki putri berusia umur lima tahun, “Anak saya tidak mau dan takut untuk pulang ke rumah dan meminta untuk tidur di tenda saja. Padahal, tidur di tenda pengunsian tidak baik untuk kesehatannya”.
Ketut Sutawijaya
COMBINE Resource Institution
- Berlatih menynayi di luar studio
- Siaran live music bersama
- Teleconference dengan bintang Mamamia



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar