Site Map: Home > berita terbaru, Dari Lapangan > Melda, Relawan Perempuan di Mentawai
28 September 2007 07:24 WIB

Gempa bumi di Kepulauan Mentawai telah mengundang banyak pihak untuk datang; memberikan bantuan logistik, tenda, pelengkapan sehari-hari, informasi, dan sebagainya. Banyak relawan dilibatkan dalam distribusi bantuan itu, baik berasal dari luar daerah Mentawai ataupun penduduk lokal. Kecamatan Pagai Utara Selatan menjadi kecamatan di Kepulauan Mentaiwai yang paling hiruk pikuk dengan relawan. Di antara hiruk pikuk itu, ternyata relawan perempuan sangat jarang ditemui di kecamatan ini, setidaknnya dari pengamatan tim posko informasi setelah satu minggu bergumul di Pagai Utara Selatan. Namun hari ini (27/09), untuk pertama kalinya, sesosok perempuan datang ke posko informasi, seorang relawan YCM (Yayasan Citra Mandiri).

Hanya melihat adalah beban

Melda Meriani Taileleu, biasa disapa dengan melda, gadis hitam manis yang merelakan waktu dan tenaganya untuk menjadi relawan demi menolong sesama. Melda menjadi relawan karena ketergerakan hati dalam melihat sesama yang menjadi korban gempa. Menurutnya, terlibat dalam aktivitas tanggap darurat bencana merupakan bagian kecil dari pengorbanan untuk menolong sesama dan bagian dari iman. “Merupakan suatu beban melihat masyarakat yang menjadi korban. Menjadi relawan merupakan suatu pelayanan yang dilakukan dengan tulus ikhlas”, kata Melda dengan serius. “Hanya senyum yang tulus dan memberikan penghiburan merupakan hal terkecil yang bisa dilakukan semua orang yang mampu memberikan kekuatan bagi korban”, tambahnya. Hikmah yang bisa dipetik dari kejadian gempa ini adalah keyakinan bahwa Tuhan masih di pihak manusia, dan manusia diberikan kesempatan untuk berbenah. Dari keyakinan ini maka bisa menumbuhkan ketenangan dalam diri sehingga mampu dijadikan sandaran bagi masyarakat yang sedang panik.

Bantuan yang tidak adil

Aktivitas yang dilakukan Melda adalah berkunjung dari posko pengungsian satu ke pengungsian lain, dari satu pulau ke pulau lainnya. Dia berkunjung untuk mendata dan memberikan bantuan logistik dan perlengkapan sehari-hari semampu mungkin. Ada banyak anak yang ia temui di pengungsian yang membutuhkan tambahan makanan terutama susu. Kebutuhan-kebutuhan spesifik bagi anak-anak dan perempuan jarang dijadikan prioritas dalam distribusi bantuan dari lembaga-lembaga pemberi bantuan. Bantuan biasanya sama rata antara kebutuhan pria, wanita, dan anak-anak. Kenyataan pahit yang ditemui melda di posko-posko pengungsian bahwa seringkali para pria lebih mengutamakan rokok dibanding kebutuhan-kebutuhan keluarganya.

Semua untuk kemanusiaan

Selama menjadi relawan perempuan, Melda merasa tidak pernah mendapat perlakuan berbeda dari teman-teman relawan lainnya walaupun Melda merupakan satu dari sedikit relawan perempuan yang ada di Kecamatan Pagai Utara Selatan pada khususnya, dan di Kepulauan Mentawai pada umumnya. Semua kerja dilakukan tanpa ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan. Gadis hitam manis ini juga menginkan bahwa lebih banyak perempuan yang telibat dalam aksi-aksi kemanusiaan seperti ini. Namun, yang lebih penting bagi gadis yang tidak memikirkan berapa besar honor yang didapat ini adalah ketulusan dan keikhlasan dalam berkorban tanpa memandang jenis kelamin. Semua untuk kemanusiaan.

Ketut Sutawijaya
COMBINE Resource Institution


tidak ada komentar untuk tulisan diatas

Tulis Komentar

Nama* Comment
E-mail*
Website
Jl. KH Ali Maksum No 183, Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta Indonesia - 55188 Telp/Fax : +62 274 411 123 E-mail: office[at]combine.or.id
Didukung oleh :
  • COMBINE Resource Institution
  • Hivos - People Unlimited