Malakopak, sebuah desa di Kecamatan Pagai Utara Selatan Kepulauan Mentawai, sempat terkenal menyusul terbatalkannya kunjungan Megawati Soekarnoputri untuk memberikan bantuan. Di luar itu, Malakopak menyimpan cerita lain yang tak banyak orang tahu. Di sini terekam sepotong kisah seputar gempa yang menjadikannya berbeda dengan kondisi seputar gempa di daerah lain di Indonesia. Beda bukan pada karakter dan kekuatan sejumlah gempa, jumlah korban, atau kerusakan yang terjadi, melainkan pada upaya pendistribusian bantuannya. Pendistribusian bantuan ke Malakopak sangat sulit dilakukan tidak hanya karena rusaknya infrastruktur akibat gempa, tetapi juga sangat tergantung pada cuaca dan keadaan alam.
Penyakit datang menyerang
Untuk menuju lokasi ini hanya bisa ditempuh melalui jalur laut, dengan menggunakan perahu bermotor. Jika cuaca bersahabat maka waktu tempuh dari ibu kota Kecamatan Sikakap kurang lebih satu jam. Namun, jika cuaca tidak bersahabat maka akses ke daerah ini putus total. Akibat sulitnya akses transportasi ini, banyak pengungsi yang putus asa karena minimnya bantuan. Padahal, Malakopak merupakan salah satu desa yang mengalami kerusakan terparah akibat gempa dan masyarakat membutuhkan bantuan secepatnya. Kondisi terakhir, masyarakat yang di pengungsian telah mulai terserang berbagai penyakit; flu, gangguan pernapasan, dan diare. Harapan sangat besar untuk mendapatkan bantuan medis dan logistik nyata terpancar dari wajah-wajah mereka.
Blank spot area
Apa daya ketika gelombang besar dan cuaca yang tak bersahabat menghadang kedatangan para relawan, sehingga pendistribusian bantuan ke wilayah ini sangat sulit dilakukan. Cuaca yang tidak bersahat ini seringkali menjebak para relawan berhari-hari menunggu cuaca membaik untuk kembali ke posko utama di Sikakap. Parahnya lagi, di lokasi ini tidak ada alat komunikasi yang berfungsi. HP tidak dapat sinyal. Pun RIG atau HT tidak bisa terfungsikan. Radio darurat gempa yang didirikan di Nenemleleu, Sikakap juga tidak bisa di dengar di daerah ini. Masyarakat hanya bisa mengakses TV dengan menggunakan parabola yang bisa ditonton pada malam hari saja. Tapi toh apa yang bisa mereka dapat dari televisi yang sama sekali tak menyentuh konteks kehidupan sejumlah penduduk kepulauan ini.
Ketut Sutawijaya
COMBINE Resource Institution



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar