Site Map: Home > berita terbaru, Dari Lapangan > Perahu Boat Tetap Primadona
29 September 2007 07:25 WIB

Walaupun sepeda motor telah mulai dikenal, tapi peran kapal boat belum tergantikan. Kepemilikan perahu boat masih lebih dominan dibanding dengan kepemilikan sepeda motor. Perahu boat atau alat transportasi laut lainnya menjadi kebutuhan utama dalam transportasi di Kecamatan Sikakap ini, dan di Kabupaten Mentawai pada umumnya. Saat tim posko informasi melakukan pengamatan di Dermaga Polaga, hampir tiap tiga menit sekali ada perahu yang pergi dan datang di dermaga ini. Jauh jika dibandingkan dengan ojek, yang setiap satu jam belum tentu ada yang menggunakan jasanya. Tarif perjalanan menggunakan boat rata-rata dua sampai tiga ribu rupiah. Namun, jika berombongan cukup membayar kolektif dengan harga kurang lebih Rp. 10.000,-. Hasil rata-rata penyedia jasa perahu boat ini perhari berkisar antara Rp. 40.000,- sampai Rp. 70.000,- perhari, belum dipotong dengan pembelian bensin, minyak tanah, oli, dan perawatan kapal.

Perahu boat merupakan sarana vital. Namun, saat ini mengalami tantangan, yaitu berupa harga badan perahu boat yang semakin mahal. Hal ini dikarenakan mulai susahnya mencari kayu yang berukuran besar yang bisa dijadikan boat. Mulai langkanya kayu-kayu di hutan-hutan akibat kebutuhan akan kayu yang meningkat dan pembatatan hutan untuk kepentingan industri menjadi faktor utama. Saat ini harga badan perahu yang memiliki panjang delapan meter dengan lebar satu meter telah mencapai harga kurang lebih tiga juta rupiah. Itu pun untuk kondisi bekas pakai (second hand). Jika perahu yang baru berharga sekitar lima sampai enam juta rupiah. Belum lagi ditambah dengan membeli motor boat seharga 13 jutaan rupiah dengan kekuatan 8 PK. Total harga ini tentu sangat berat jika dibandingkan dengan penghasilan yang didapatkan dari penjualan jasa transportasi laut saat ini.

Memahami kehidupan kepulauan

Ketika berkunjung ke suatu wilayah yang belum dikenal sebelumnya maka banyak hal baru yang akan membuat kita gagap untuk beberapa saat. Terlebih jika itu merupakan kunjungan pertama dan kita tidak punya cukup informasi tentang daerah itu sebelumnya. Seperti halnya Mentawai ini. Tidak banyak orang mengenal kabupaten baru ini dengan bentuk kepulauannya, terlebih dengan kebudayaannya. Kabupaten berwujud kepulauan yang terletak di sisi barat terluar dari Indonesia ini spontan menjadi terkenal sejak gempa menghantam daerah ini. Berbagai media massa meliput pulau-pulau ini; media nasional dan internasional. Terlebih saat berita kontroversial tentang ketidakjadian mantan presiden RI Megawati Soekarnoputri untuk berkunjung ke pulau sebagai salah satu aktivitas sosialnya, nama Mentawai melambung.

Selain kebudayaan, seperti kebiasaan, bahasa, adat, sampai pada karakter wajah; ada satu yang pasti lebih susah untuk dilupakan, transportasi. Bentang alam Mentawai, kepulauan dan berbukit-bukit, mempengaruhi persebaran penduduknya. Penduduk tersebar di bibir-bibir pantai di daerah yang terdiri dari empat pulau utama ini. Pemilihan lokasi pemukiman di bibir-bibir pantai ini karena kemudahan akses transprotasi dan komunikasi antar pulau, setidaknya ini merupakan premis umum dari pelajaran geografi saat SMU. Lokasi pemukiman seperti ini tentu lebih mudah jika diakses melalui jalur laut. Ciri ini adalah salah satu hal yang baru dan menjadi kegagapan dalam konteks penanganan bantuan bencana (gempa) di Indonesia, seperti contoh kasus Malakopak yang ditulis di website ini pada tanggal 25 september 2007. Dengan mencoba memahaminya maka seharusnya kita bisa lebih bijak bertindak.

Ketut Sutawijaya
COMBINE Resource Institution


tidak ada komentar untuk tulisan diatas

Tulis Komentar

Nama* Comment
E-mail*
Website
Jl. KH Ali Maksum No 183, Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta Indonesia - 55188 Telp/Fax : +62 274 411 123 E-mail: office[at]combine.or.id
Didukung oleh :
  • COMBINE Resource Institution
  • Hivos - People Unlimited