Walaupun sepeda motor telah mulai dikenal, tapi peran kapal boat belum tergantikan. Kepemilikan perahu boat masih lebih dominan dibanding dengan kepemilikan sepeda motor. Perahu boat atau alat transportasi laut lainnya menjadi kebutuhan utama dalam transportasi di Kecamatan Sikakap ini, dan di Kabupaten Mentawai pada umumnya. Saat tim posko informasi melakukan pengamatan di Dermaga Polaga, hampir tiap tiga menit sekali ada perahu yang pergi dan datang di dermaga ini. Jauh jika dibandingkan dengan ojek, yang setiap satu jam belum tentu ada yang menggunakan jasanya. Tarif perjalanan menggunakan boat rata-rata dua sampai tiga ribu rupiah. Namun, jika berombongan cukup membayar kolektif dengan harga kurang lebih Rp. 10.000,-. Hasil rata-rata penyedia jasa perahu boat ini perhari berkisar antara Rp. 40.000,- sampai Rp. 70.000,- perhari, belum dipotong dengan pembelian bensin, minyak tanah, oli, dan perawatan kapal.
Memahami kehidupan kepulauan
Ketika berkunjung ke suatu wilayah yang belum dikenal sebelumnya maka banyak hal baru yang akan membuat kita gagap untuk beberapa saat. Terlebih jika itu merupakan kunjungan pertama dan kita tidak punya cukup informasi tentang daerah itu sebelumnya. Seperti halnya Mentawai ini. Tidak banyak orang mengenal kabupaten baru ini dengan bentuk kepulauannya, terlebih dengan kebudayaannya. Kabupaten berwujud kepulauan yang terletak di sisi barat terluar dari Indonesia ini spontan menjadi terkenal sejak gempa menghantam daerah ini. Berbagai media massa meliput pulau-pulau ini; media nasional dan internasional. Terlebih saat berita kontroversial tentang ketidakjadian mantan presiden RI Megawati Soekarnoputri untuk berkunjung ke pulau sebagai salah satu aktivitas sosialnya, nama Mentawai melambung.
Selain kebudayaan, seperti kebiasaan, bahasa, adat, sampai pada karakter wajah; ada satu yang pasti lebih susah untuk dilupakan, transportasi. Bentang alam Mentawai, kepulauan dan berbukit-bukit, mempengaruhi persebaran penduduknya. Penduduk tersebar di bibir-bibir pantai di daerah yang terdiri dari empat pulau utama ini. Pemilihan lokasi pemukiman di bibir-bibir pantai ini karena kemudahan akses transprotasi dan komunikasi antar pulau, setidaknya ini merupakan premis umum dari pelajaran geografi saat SMU. Lokasi pemukiman seperti ini tentu lebih mudah jika diakses melalui jalur laut. Ciri ini adalah salah satu hal yang baru dan menjadi kegagapan dalam konteks penanganan bantuan bencana (gempa) di Indonesia, seperti contoh kasus Malakopak yang ditulis di website ini pada tanggal 25 september 2007. Dengan mencoba memahaminya maka seharusnya kita bisa lebih bijak bertindak.
Ketut Sutawijaya
COMBINE Resource Institution



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar