Tak lama setelah gempa bumi terjadi pada Kamis, 13 September 2007 lalu, tsunami kecil sempat terjadi di kawasan Desa Sikakap, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Penduduk setempat memang menyebut gelombang laut setinggi 3 meter yang menyapu daratan serta masuk ke beberapa rumah penduduk itu tsunami kecil. Kawasan yang bibir pantainya cukup padat dengan permukiman penduduk itu pun mengalami kerusakan yang cukup parah. Dampaknya, penduduk setempat memilih mengungsi ke perbukitan yang dinilai aman dari ancaman tsunami, terlebih ketika gempa-gempa susulan dengan skala yang besar masih sering terjadi. Tenda-tenda darurat dengan kondisi yang tidak layak huni pun menjadi pilihan satu-satunya dikarenakan belum ada bantuan tenda yang lebih layak bagi mereka.
Bangunan SDN Makalo 21 yang tak jauh dari bibir pantai Selat Sikakap juga menjadi tempat pengungsian penduduk. Sedikitnya 50 KK (278 jiwa) penduduk Dusun Berkat, Desa Sikakap di Pulau Pagai Selatan ini mengaku masih trauma terhadap rangkaian gempa dan tsunami tersebut. Kebetulan, kontur di belakang bangunan sekolah dasar itu cukup berbukit. Di sanalah mereka mendirikan tenda-tenda pengungsian dengan kondisi minimal. Pun kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar itu belum dapat dilangsungkan kembali karena gedungnya retak di beberapa bagian. Anak-anak siswa sekolah setempat mengaku sangat perlu bantuan tenda yang layak sebagai pengganti sementara bangunan sekolah.
Evakuasi dan distribusi bantuan
Penduduk setempat mengaku sudah tahu tanda akan datangnya tsunami, yaitu ketika air laut tiba-tiba surut setelah terjadi gempa. Mereka sudah tahu jalur evakuasinya. Bahkan, jalan alternatif menuju tempat pengungsian sudah dipersiapkan sejak lama. Namun, tampak bahwa koordinasi di antara warga sendiri masih sangat kurang. Kepala Dusun Berkat mengungkapkan bahwa dari sisi kesiapsiagaan itu penduduk masih lebih memikirkan dirinya sendiri. Begitu terjadi gempa, masing-masing penduduk segera lari ke bukit tanpa memikirkan bagaimana dengan penduduk yang lain. Koordinasi yang lebih baik untuk evakuasi belum bisa berlangsung.
Sementara itu, bantuan bagi korban dan pengungsi gempa Mentawai ke dusun ini sudah ada dan lebih dari cukup. Bantuan itu berasal dari beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan sebuah perusahaan, PT MPLC, yang mendistribusikan logistik ke wilayah Dusun Berkat tersebut. Jalan darat yang dibangun oleh pihak perusahaan menjadi jalur distribusi bantuan satu-satunya di daratan. Di luar itu, moda transportasi utama tetap melalui jalur laut, yang umumnya dilalui dengan perahu motor untuk transportasi antar pulau yang berdekatan. Untuk menuju Dusun Berkat di Pulau Pagai Selatan ini harus ditempuh selama 5 menit dengan perahu motor dari ibukota Kecamatan Sikakap di Pulau Pagai Utara, atau sekitar 10 menit berperahu motor dari Posko Informasi CRI – Air Putih yang didirikan di Nenemleleo, Pagai Utara.
Sarwono – Marzuni



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar