Perlu waktu kurang lebih satu jam untuk tiba di pengungsian Beleraksok di Desa Malakkopak dari Polaga, sebuah pasar kecil di seberang Pulau Pagai Utara, tempat ibu kota kecamatan Sikakap. Dari Malakkopak menempuh jalan yang lebarnya rata-rata enam meter, penuh dengan kerikil, halus, dan padat. Tak mungkin melaju cepat di jalan seperti ini. Tidak ada pemukiman di sepanjang jalan, hanya pohon-pohon saja menghiasi yang merupakan ladang masyarakat dan hutan. Jelas terjejak ban truk-truk besar sering melintasi jalan ini. Truk-truk yang melintas di jalan ini milik perusahaan yang memiliki HPH di Mentawai. Jalan ini pun dibangun oleh perusahaan untuk kelancaran usaha mereka. Menyusuri jalan ini akan membawa kita pada beberapa perkampungan dan beberapa posko pengungsian.
Air mancur usai gempa
“Sesaat setelah terjadi gempa, di dusun kami tiba-tiba banyak bermunculan mata air dan menyembur ke atas. Ada sekitar 14 titik yang menyemburkan air. Saat ini dusun kami rusak parah. Tidak ada rumah yang layak ditempati”, tambah Aluis dengan wajah yang mengerut mengingat-ingat kejadian pahit yang menimpa dusunnya. Setelah air mancur yang tiba-tiba keluar dari pemukiman Belekraksok ini, tanah di dusun ini menjadi lembek. Kejadian yang sangat meresahkan inilah yang menyebabkan semua warga Belekraksok, 163 KK atau 637 orang, rela mengungsi jauh dari tempat tinggal mereka.
Lebih tenang di pengungsian
Lokasi pengungsian sejauh kurang lebih enam kilometer dari tempat tinggal mereka ini dipilih dengan beberapa pertimbangan. Pertimbangn pertama karena letaknya yang tinggi dan jauh dari tepi laut, dengan asumsi akan terhindar dari bahaya tsunami. Kedua, lokasi ini relatif mudah dalam hal akses komunikasi dan transportasinya dibanding hunian mereka yang telah hancur. Lokasi pengungsian ini lebih membawa ketenangan atas bahaya gempa dan tsunami yang mengancam. Bahkan dari sekian penduduk mengaku ingin tetap tinggal di lokasi pengungsian itu dengan membangun rumah-rumah permanen mereka di situ. “Saya tidak ingin kembali ke rumah saya yang dulu, saya lebih nyaman di sini” kata seorang warga, Firman. Sampai saat ini hanya ada bantuan logistik, tapi belum ada bantuan konsultasi dan juga material untuk membuka pemukiman baru di daerah ini.
Lokasi pengungsian ini hanya bisa diakses melalui jalan darat, dan itu pun harus dengan sepeda motor, karena badan jalan yang retak-retak yang rawan dilalui dengan beban yang berat. Ada juga jalan yang terputus. sehingga relawan-relawan yang menggunakan mobil atau truk terpaksa berjalan beberapa ratus meter. Sementara, hanya ada dua motor milik warga di tempat itu. Keberadaan ojek di situ jelas cukup membantu walaupun ongkosnya relatif mahal, sekitar Rp 30.000,- untuk ke Polaga saja. Pilihan lainnya, jika ada truk dari perusahaan pemegang HPH yang melintas bisa ditumpangi.
Ketut Sutawijaya
COMBINE Resource Institution



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar