Tenda yang layak tetap menjadi kebutuhan utama para pengungsi hingga saat ini. Warga Muara Taikakko di Pagai Utara Selatan yang bertahan mengungsi di UPT Taikakko mengeluhkan kondisi mereka. Mereka sudah mendapatkan tenda dari Palang Merah Indonesia yang bisa dihuni bersama oleh 9 KK dengan membuat satu dapur tambahan di luar tenda. “Tapi kalau hujan, kita seperti berteduh di bawah pohon, Mas”, ungkap Ujang, salah satu pengungsi, menggambarkan tidak layaknya kondisi tenda yang baru dihuni selama seminggu tersebut. Walaupun begitu, petani Nilam itu tetap merasa bersyukur jika dibandingkan dengan sebelumnya ketika warga tidak ada tenda sama sekali.
Menanti bantuan dan menunggu perhatian
UPT Taikakko sendiri merupakan kawasan transmigrasi yang sudah dikosongkan sejak lima tahun yang lalu karena Hapk Pengelolaan Hutan (HPH) perusahaan kayu di sana, PT ATN dan PT MInas, sudah habis. Akibatnya, masyarakat setempat banyak yang tidak bekerja lagi. Pilihan satu-satunya adalah bertani di ladang yang hasilnya tak cukup untuk menghidupi keluarga. Bantuan pun menjadi sesuatu yang sangat diharapkan oleh mereka. Selama di pengungsian, warga sudah mendapatkan bantuan berupa beras dan mie instan. Sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga membantu peralatan mandi serta sarung. Sementara, pendataan dari pemerintah belum selesai-selesai juga.
Warga juga mengeluhkan belum pernah ditengok oleh kepala dusunnya. Kebetulan, kepala dusun mereka juga mengungsi, tetapi tempatnya berbeda dan jauh dari lokasi UPT Taikakko ini. Sementara ini, warga pengungsi dari Muara Taikakko ini diwakili oleh Pak Syarifuddin. Kepala keluarga yang sehari-harinya berdagang kecil-kecilan di rumahnya di Muara Taikakko ini kemudian mendata jumlah pengungsi di lokasi itu, tercatat 130 KK. “Setelah pendataan itu barulah kita mendapatkan bantuan beras 5 kg dan makan bayi”, ujar bapak lima anak yang rumahnya roboh akibat gempa bumi pada 12 September 2007 yang lalu.
Sarwono – Marzuni



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar