Site Map: Home > artikel, berita terbaru, Dari Lapangan > MEDIA SEBAGAI JENIS ANCAMAN BENCANA BARU
31 October 2011 02:47 WIB

(Sebuah Ulasan “Jurnalisme Bencana Bencana Jurnalisme”)

Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme, setidaknya itulah kesaksian Dari Tanah Bencana Oleh Ahmad Arif, seorang wartawan muda Kompas yang banyak meliput kejadian bencana di Indonesia. Walaupun buku yang dikemas masih menjadi pengalaman peliputan dilapangan, antara perasaan yang dirasakan saat peliputan sampai dengan suka dukannya, setidaknya buku tersebut membuktikan bahwa belum adanya skema jurnalisme bencana di Indonesia yang kaya akan ancaman bencana. Sehingga masih banyak praktik-praktik peliputan ala kadarnya dari awak media, terutama media meanstream.

KETIDAKMAMPUAN JURNALIS BENCANA DI INDONESIA
Pewarta maupun awak media meanstream di Indonesia adalah pekerja yang tidak dibentuk atau disiapkan sebagai pewarta di wilayah bencana sehingga yang terjadi adalah atas proses yang tidak direncanakan dan kebanyakan adalah Shock reporting, tidak adanya panduan pewartaan yang telah di konvergensi dengan isu-isu kebencanaan.

Apabila kita bandingkan dengan jenis pelaporan yang dilakukan oleh pewarta di indonesia dengan Jepang maka yang terjadi adalah bertolak belakang. Di Jepang, dalam keadaan bencana semua media sangat sedikit bahkan tidak ada yang memberitakan informasi kebencanaan dengan penyertaan gambar maupun ilustrasi kesedihan atau pun mengenaskan. Mereka banyak memberitakan informasi yang lebih memompa optimisme dan kebangkitan. Di Indonesia ketika ada bencana yang terjadi di sebuah wilayah maka kita masih saja menemukan pertanyaan-pertanyaan dari pewarta yang sangat tidak manusiawi, semisal : ” Bagaimana perasaan anda ketika kehilangan anggota keluarga yang jadi korban bencana ini?, atau ilustrasi mayat korban yang di close up sampai menimbulkan begitu ngerinya bencana tersebut.

SATU KATA MENYESATKAN, PICU BANYAK KORBAN

Dalam keadaan tanggap darurat pemilihan kata dalam memberitakan sebuah informasi bencana dapat berakibat fatal, Hal ini berlaku pada media-media yang lebih banyak mengandalkan indera pendengar seperti radio siaran dan radio komunikasi. Dalam penggunaan media Radio komunikasi (handy Talky-HT) dalam pengalaman pelaporan erupsi Merapi masih menggunakan bahasa-bahasa yang tidak jelas ukuranya, semisal kata-kata “guguran dengan intensitas Sedang”, pertanyaannya ukuran kecil, sedang, besar, bagi warga desa biasa tidak dapat menangkap dengan jelas.

Kejadian Gempa Bantul menjadi pelajaran, ketika kepanikan dengan isu tsunami yang dilakukan oleh anggota kepolisian (pada saat kepanikan juga) dengan pengeras suara mengatakan ke warga bahwa “warga harus mengungsi air sudah dekat”, yang informasi tersebut belum dicek juga kebenarannya. Dengan hanya kata “air sudah dekat”, kejadian gempa bantul memakan korban di jalan raya karena kepanikan atas isu yang belum jelas.

KEKUATAN KORPORASI MEDIA, BISNIS KEMANUSIAAN YANG MENGGIURKAN

Tidak semua pewarta tidak sensitif mengenai pemberitaan kebencanaan, hal ini dialami oleh Ahmad Arif yang juga penulis buku “Cincin Api”. Dia beberapa kali menulis dengan gagasan seperti dilakukan oleh pewarta-pewarta di jepang. Ternyata ketika tulisan dia masuk ke redaksi-pun tulisannya sering ditolak karena tidak sesuai yang diinginkan oleh pemilik medianya. Sebagian media meanstream di Indonesia mempunyai program penggalangan dana kemanusiaan dari masyarakat. Dan program penggalangan dana ini-pun menjadi bisnis yang menggiurkan dalam penyaluran dana kemanusiaan. Dampaknya sangat jelas apabila kita melihat beberapa bangunan di lokasi gempa dengan bertuliskan ” Bangunan ini dibangun dari program Pundi Amal……” ataupun bangunan sumbangan dari ……mediagroup dan lain sebagainya. Atas dasar Bisnis Kemanusiaan yang Menggiurkan tersebut pula, akan berpengaruh pada politik redaksi yang menekankan kepada pewarta untuk menuliskan berita-berita yang mengiba atau yang menyedihkan. Dan dengan cara pemberitaan yang mengiba ini pula pundi-pundi bantuan ke Perusahaan Media terus mengalir. (Mart Widarto)


tidak ada komentar untuk tulisan diatas

Tulis Komentar

Nama* Comment
E-mail*
Website
Jl. KH Ali Maksum No 183, Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta Indonesia - 55188 Telp/Fax : +62 274 411 123 E-mail: office[at]combine.or.id
Didukung oleh :
  • COMBINE Resource Institution
  • Hivos - People Unlimited