Oleh: Dino Umahuk
Memanfaatkan semua peluang. Mungkin itulah yang dilakukan para kandidat calon gubernur Maluku Utara. Di tengah bencana meletusnya Gunung Api Gamalama, mereka mendatangi para korban untuk membagikan bantuan. Lantas, pertanyaan pun menyeruak. Setulus apa bantuan mereka mengingat pemilihan kepala da…erah tinggal sebentar lagi.
Kehadiran para kandidat kepala daerah Maluku Utara ke lokasi pengungsian memang bisa disalahtafsirkan sebagai bentuk mencari simpati sebelum pemilihan gubernur, Tahun 2013 mendatang. Apalagi mereka hadir dengan atribut masing-masing, termasuk atribut partai politik pendukungnya.
Salah satunya adalah seperti yang dilakukan Ahmad Hidyat Mus yang membagi-bagi uang dan membangun posko di lokasi pengungsian, tepat di atas Jalan Raya Pahlawan Revolusi. Depan bekas kantor Gubernur Maluku Utara. Bupati Sula Kepulauan ini hadir dengan bendera partai Golkar lengkap dengan spanduk ketua Umumnya Aburizal Bakrie.
Kandidat lainnya adalah KH. Abdul Gani Kasuba. Wakil Gubernur Maluku Utara yang juga pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengaku sudah sering melakukan tugas kemanusiaan, biar pun tidak sedang mencalonkan diri. Kehadirannya ditengah pengungsi juga disebut sebagai bentuk tanggungjawab pemerintah provinsi terhadap rakyatnya.
Demikian pula dengan yang dilakukan Zainal Soleman. Kandidat gubernur yang katanya menjabat di sebuah dinas pada pemerintah DKI Jakarta ini, menebar simpati melalui truk air. Sejumlah mobil tanki dengan spanduk Posko Zainal Soleman Peduli, dalam beberapa hari teakhir ini, terlihat mensuplai air bersih ke masyarakat dan menyiram jalan-jalan di Kota Ternate yang tertutup debu vulkanik akibat letusan Gunung Api Gamalama.
Menarik memang jika kita melihat fenomana tebar pesona ini. Di tengah bencana dan derita rakyat, para kandidatgubernur berlomba-lomba untuk mencoba merebut simpati warga. Mereka tampil seperti pahlawan dengan segala bantuannya. Tak salah memang, karena tidak ada undang-undang yang melarang.
Ahli komunikasi Effendi Ghazali, berpedapat sah-sah saja para kandidat gubernur tebar pesona jika ditinjau dari segi ilmu komunikasi politik. Seorang kandidat, kata pakar komunikasi dari Universitas Indonesia ini, punya hak memanfaatkan semua isu untuk membangun pencitraan dan meraih simpati publik.
Namun dalam pandangan saya kok sepertinya tidak elok dan tidak pas. Sebagai sesama anak negeri, apakah layak dan pantas kita mengekploitasi kedukaan sebagian saudara-saudara kita demi empuknya kursi kekuasaan yang kita incar?
Apakah disaat sebagian saudara-saudara kita sedang terbelenggu kepanikan dan ketakutan, kita berhak hadir membawa angin surga yang ujung-ujungnya agar mereka mau memilih kita sebagai penguasa baru? Saya jadi teringat larik lagu dangdut “kau menari-nari/di atas lukaku ini”. Teringat juga saya dendang almarhum H. Meggy Z dalam sebuah lirik lagunya. Sungguh teganya dirumu, teganya, teganya, teganya.
Loh, kok mendadak dangdut? Boleh donk, Masa para kandidat gubernur Maluku Utara boleh mendadak tebar pesona, saya tidak boleh mendadak dangdut. Bukankah dangdut adalah ekspresi musik kelas bawah? Kelas kita-kita rakyat Maluku Utara?
Musik yang paling dekat dan akrab dengan kebanyakan kita. Musik yang secara ekplisit menyuarakan derita kehidupan rakyat? Seperti Hamdan ATT yang mengaku Termiskin Di Dunia. Bukan seperti sikap salah satu kandidat gubernur yang sesumbar mampu membayar sampai angka Rp. 7 Milyar, untuk satu orang anggota DPRD kalau pemilihan gubernur dilakukan oleh DPRD provinsi.
Kembali pada soal korban letusan Gunung Api Gamalama dan tebar pesona para kandidat gubernur, kita tentu berharap hadirnya para kandidat ini tidak semata karena niat menambil peluang di atas airmata dan derita rakyat. Melainkan sebuah kepedulian yang tumbuh tulus dari hati.
Terlepas dari apa pun motivasi para kandidat gubernur ini, kita berharap dengan kehadirannya ditengah korban bisa memberi pengalaman langsung agar kelak mereka bisa melahirkan program yang mampu menanggulangi bencana serupa. Semoga (*)



tidak ada komentar untuk tulisan diatas
Tulis Komentar